Pagi-pagi saya sudah dikagetkan oleh suara handphone yang berdering…tertulis ‘MJ is calling.. .’ MJ adalah suami dari teman saya yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri. Percakapan dimulai dengan ngalor ngidul dan akhirnya sampai pada suatu topik..membahas permintaan isterinya.

MJ : Mbakmu pengen rumah, dek…ngelihad kakaknya mau ambil perumahan di daerah utara dia jadi pengen

Nay : Ya udah, dibeliin tho..

MJ : Yah, mana aku ada uang…tau sendiri gajiku kecil, buwat makan aja nge-pres

Nay : Bilang ke istrimu beli rumahnya ditunda, belum ada uang

MJ : Isteriku pengennya tinggal sendiri, ga mau nyampur sama orang tua lagi. Makanya kekeuh minta beli rumah.

Nay : Ngontrak rumah aja, kan bakal pisah tuh ma orangtua.

MJ : Dia ga mau, pokoknya pengennya rumah milik sendiri

Nay : Kalau begitu coba dikasi pengertian..kamu yang paling tahu karakter isterimu, pasti kamu juga tahu cara meluluhkan hati isteri sendiri.

Percakapan pagi yang aneh bin ga jelas….sudah berapa kali ia curhat atas ketidakpahamannya akan sosok wanita yang kini menjadi isterinya..serba salah…wanita oh wanita..apa yang kau mau..begitulah katanya

…‘Karena wanita ingin dimengerti, manjakan dia dengan kasih sayangmu’…..balas saya sambil bersenandung

Sejujurnya, MJ tak ingin meminta solusi dari saya karena seringnya jawaban dan solusi yang saya berikan bersifat ngasal, ga logis, mengada-ada dan sok menganggap semua masalah enteng. Dia hanya ingin berbagi cerita bahwa inilah kehidupan berumah tangga… setidaknya dapat menjadi bekal pembelajaran ketika nanti saya siap melangkah ke gerbang pernikahan.

Ternyata semua tidak semudah apa yang saya pikir. Beberapa alternatif jalan keluar saya yakin sudah muncul di kepalanya. Tetapi beratnya terletak pada bagaimana cara penyampaiannya. Bagaimana ia harus berbicara kepada isteri yang sangat dicintainya, kembali menunda keinginan isteri akan sesuatu hal. Dengan konsekuensi akan melihat perubahan mimik muka isterinya yang tadinya tersenyum simpul penuh harap berganti menjadi segurat kekecewaan yang meski sengaja disembunyikan tetap akan tampak. Sakiit..pastinya. Setelah itu rasa bersalahnya akan muncul, mengapa aku tidak bisa membahagiakan orang yang sangat kucintai…Yah, itulah selama ini keluhannya. Betapa seluruh suami di dunia ingin membahagiakan isterinya…

Makanya, jujur dong sama isteri, kasih penegrtian..insyaALLAH isteri juga akan mengerti keterbatasan suami.

Saya kok jadi berfikir gila..apakah seperti itu nantinya, menikah akan menjadikan sepasang suami isteri menjadi sosok penakut karena kekhawatiran tidak bisa membahagiakan pasangan masing-masing.

Ga sah takut nikah, Nay. Pede aja lagi..Bukankah pernikahan akan bahagia bila suami isteri mempunyai tujuan yang sama, ada transparansi dalam hubungan, kejujuran, kepercayaan, pengertian, saling berbagi dalam suka maupun duka, saling melengkapi..loh kok jadi banyak gini..ternyata memang ga simple..(garuk-garuk mode : on). Kudu banyak baca buku nih..setidaknya harus tahu kewajiban-kewajiban isteri.

Apalagi ya syarat untuk menjadi keluarga  SAMARA?

Setelah mendengar curhat MJ,terbersit doa dan pengharapan  ‘ALLAH, bisakah saya memesan seorang suami, tak perlu dia seorang yang dapat memenuhi semua keinginan saya. Cukup seorang yang mengerti, memahami dan dapat memberikan pengertian kepada saya…dan pastinya yang dapat mengantarkan saya ke JalanMU. Amiiiin……’