Coretan kedua dibulan April ini akan saya mulai dengan sepenggal kisah sedih di hari libur. Loh, liburan kok malah sedih?? Beberapa hari yang lalu, saya menghubungi seorang teman yang sudah saya anggap seperti adek sendiri karena status-status di FBnya yang bernada sedih. Ketika saya tanyakan tentang kondisinya, dengan nada manja khas anak ragil dia pun berkeluh kesah. Sedang kesal, jengkel dan uring-uringan rupanya anak ini atas suatu peristiwa yang baru saja dialaminya.…kesal dengan teman pria jaman SMU yang tanpa diduga memeluknya erat dan hampir menciumnya sewaktu berlibur ke pantai….berbagai makian terhadap pria berkelakuan minus itu pun ia lontarkan.  Saya juga jadi ikutan kesal mendengarnya, kesal kenapa teman saya mau diajak kemana pun tanpa tujuan yang jelas, kesal karena kenapa hanya ada kau dan dia saja..padahal jelas-jelas nanti yang ketiga adalah setan..setan yang dapat berupa apapun termasuk nafsu…(kesal kok saya ga diajak :) ?!*???!!!)

Hal ini mengingatkan saya pada kejadian masa lalu, dimana saya pernah mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang saudara kepada saya. Syok, tentu saja..bahkan imbasnya kira-kira 1 minggu saya tidak berani melihat makhluk bernama pria..trauma ceritanya (hadooh, separah itukah? tapi sekalian latihan ghodul bashor kan de’)

Terngiang kembali prasangka-prasangka yang selalu saya tepis..karena menganggap dia layaknya kakak kandung saya..jadi saya harus berkhusnudzon dong. Warning sign dari ALLAH lewat hati kecil pun tidak saya gubris.. Dan waktu itu, teman saya menjadi tampungan lelehan air mata saya..tampungan segala emosi dan curahan hati saya. Dia berkata, “Dek, ga akan ada asap bila ga ada api”…seperti kejadian sabab musabab dan hukum aksi reaksi, dia pun mulai menelaah  aktivitas saya sehari-hari. “Sebagai koreksi buwat adek, tolong adek belajar menjaga sikap, perilaku dan juga cara berpenampilan. Meski sepupu adalah keluarga tapi dia bukan muhrim adek, jadi jilbabnya dipakai terus ya, kelakuannya juga dijaga.” lanjutnya.

Terus terang, yang saya butuhkan waktu itu adalah sebuah pembelaan dan perlindungan, bukan koreksi atas diri saya. Masak dia yang berbuat hal tidak pantas,, tapi saya yang harus koreksi diri.

Tapi memang benar adanya. Wanita dapat menjadi fitnah terbesar bagi laki-laki. Setiap wanita keluar, berapa banyak setan yang mengelilinginya. Yang tak cantik pun akan tampak seperti Dian Sastrowardoyo dengan sedikit tiupan para setan ke mata lelaki, apalagi yang cantik..bakal tampak seperti bidadari turun dari langit. Atau senyuman dan tatapan wanita yang dapat mengundang salah tafsir pada sebagian orang. Belum lagi bila berbicara, berjalan, dll…uffh..bisa membuat dag dig dug duerr.

Jadi geli sendiri bila mengingat cup-cuap si teteh, “Dek, jangankan wanita, kebo dibedakin aja bakal dilirik sama pria. Haha..teteh mah bisa aja, mungkin karena bedaknya ketebelan kali ya? ato karena kebonya juga pake goyang inul, jadi menarik perhatian kaum adam.

Kejadian ini saya anggap sebagai teguran dari ALLAH, ketika saya tidak terlalu peduli dengan aturan-aturan islam yang menyuruh wanita untuk menghijabi diri, memperhatikan adab-adab pergaulan, menghindari khalwat, melarang wanita pergi tanpa disertai dengan muhrim dan masih banyak lagi..ketika ilmu agama yang saya dapat hanya menjadi pengetahuan bagi saya tanpa diikuti dengan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal nyata-nyata islam sangat memuliakan para wanita.

Yah, selain menjaga diri saya, saya juga wajib menjaga hati orang-orang yang berada disekeliling saya. Jangan sampai membuat mereka merasa sumpek hati bila melihat saya. Jadi bila ada orang yang men-towel  dagu mungil saya atau berani menjamah saya, jangan lantas sepenuhnya menyalahkan orang tersebut karena mungkin hal itu juga manifestasi dari ulah saya…. tapi awas, kalo ada yang berani coba-coba, ni kepalan tangan siap mendarat pada sasaran yang tepat. (*galak mode : on)