Kemarin, saya didaulat menjadi guide bagi teman kuliah saya yang ingin menjelajahi kota Solo Berseri. Menyenangkan, karena selain dapat membahagiakan teman-teman, sayapun dapat merehatkan pikiran yang sudah lama terfokus pada ujian akhir. Saat memasuki pusat perbelanjaan, aneka busana, jilbab, tas, sepatu dan asesoris bergelantungan menyilaukan mata..sungguh, hal ini membuat mata saya begitu liar mengamati, jantung saya kembang kempis dan pikiran saya mulai mengkalkulasi, ..saya terdiagnosa menderita penyakit ‘LAPAR MATA kronis eksaserbasi akut’

Heran, padahal dulu saya seorang anak yang manis, ga boros dan ga neko-neko..(ah Nay, terlalu narsis :) ). Tapi sekarang…Mungkin karena lingkungan pergaulan yang menggerus nilai-nilai itu.  Gara-gara penyakit kronis ini, hasrat saya sering tak terbendung. Pokoknya jangan sampai out of date.  Alhasil, pengeluaran tiap bulan pun membengkak..istilah gaulnya ‘besar pasak daripada tiang’..besar pengeluaran untuk belanja daripada pendapatan hasil minta-minta dari orangtua.

Kalau berbicara tentang boros, ga afdol rasanya bila tidak dikaitkan dengan rivalnya..yaitu hemat dan kesederhanaan (lah, emang mereka musuhan en saingan???). Untuk urusan ini, kakak saya lah jago-nya. Seorang yang sederhana ..apa adanya..’ coz simplicity is beautiful’ begitulah katanya.

Flash back ke masa lalu..dimana kakak sangat berperan dalam pengambilan keputusan mengenai kepentingan saya yang belum bisa pilah pilih kebutuhan. Contohnya, ketika awal semester 3 perkuliahan, saya meminta ayah untuk membelikan sebuah ponsel. Campur tangan kakak membuat saya harus menanti selama 6 bulan. Dan ketika hasrat saya terpenuhi, betapa kakak mewanti-wanti saya agar menggunakan ponsel sebaik-baiknya, kembali ke tujuan semula bahwa saya memerlukan ponsel hanya untuk sms dan telpon, jadi kalau ada ponsel dengan model baru dan fitur yang lebih canggih saya janji ga bakal minta..OK kesepakatan damai pun dibuat.

Lain lagi cerita ketika saya meminta laptop untuk persiapan menghadapi skripsi..dengan mudahnya saya mendapat acc dari ayah..kebutuhan sekolah gitu loh. Tetapi lagi-lagi kakak beraksi, saya dicecar dengan nada interogasi yang bernuansa cengengesan..pada akhir percakapan diambil kesimpulan bahwa saya sebetulnya tidak terlalu butuh..kenapa? karena rental komputer bertebaran disekitar kos saya..hufhh..gagal lagi. “Mas iri sama adek,” tuduh saya..lantas jawabnya “Kalau memang adek butuh, bawa komputer mas, nanti biar mas pinjem temen ato mas ke rentalan”…Meskipun gondoknya setengah mati, saya tetap tidak tega membawa lari komputer kesayangan kakak ke Jakarta, karena toh kakak saya butuh untuk mengerjakan skripsi-nya.

”Bila ingin membeli sesuatu itu dilihat esensinya..coba pakai kacamata kebutuhan, apakah kamu benar-benar butuh atau hanya ingin…mas gak akan melarang adek membeli sesuatu, asal jelas kegunaannya.  Ga baik membuang uang untuk sesuatu hal yang tidak perlu. Coba lihat sekeliling, jangan sampai kamu berlebihan sedang sekitarmu dalam keadaan kekurangan. Manusia itu memang sifatnya ‘selalu merasa kurang’…adek belajar bersyukur ya..kalo engga nanti jadi temennya setan loh” Nasehat kakak kala itu. Saya pun memonyongkan bibir..”enak aja,,mas asal nge-cut permintaan dan keinginan adek..coba kalau mas yang berada diposisi adek.” batin saya dalam hati.

Rupanya ALLAH mendengar bisikan dongkol saya, entah ALLAH ingin menguji kakak atau sebagai pembuktian kepada saya hingga pada suatu ketika ayah menawarkan kakak sebuah motor untuk keperluan PKL bersamaan dengan datangnya saudara meminta bantuan financial. Tanpa pikir panjang, kakak memutuskan menunda pembelian sampai setahun kedepan dan meminjamkan uang tersebut pada saudara..katanya waktu itu, “Mas memang butuh, tapi saudara lebih butuh. Untuk saat ini kebutuhan mas bukan prioritas utama.”

Saya bengong..bukankah motor memang menjadi idam-idaman kakak yang selama ini nge-bus untuk pergi kemana-mana? Bukankah kakak juga pernah bilang jika uang dipinjamkan pada orang maka jangan pernah berharap balik…lah kalau bener kejadian dalam 1 tahun uangnya ga balik gimana?…yah, itu akan jadi konsekuensi keputusan kakak.

Pantes kakak cukup dengan apa yang ia pakai selama masih layak pakai.. Ketika membuka lemarinya, begitu banyak celah..Ketika melihat kamarnya, tidak ada timbunan barang yang mubadzir. Sedangkan, lemari dan kamar saya bisa dipastikan kebalikannya :) … Tapi memang benar semua nasehat kakak…gak ada salahnya bila dipakai..toh kalau ga dipakai saya sendiri yang rugi. Sejak saat itu, saya berjanji pada kakak dan diri saya sendiri untuk belajar membeli dan mempergunakan sesuatu sesuai dengan keperluan.

Waktu pun berlalu..dan kakak pun tersenyum seraya menggeleng melihat kebiasaan saya yang ternyata belum berubah…kali ini tas kresek yang saya tenteng berisi jilbab orange..dan dia pun berucap “Adek pintar”..(…ngabisin uang)..lantas bernyanyi “mana janji manismu…” (Nidji-sang Mantan)

Ups..maaf kak..adek masi belajar..