Disuatu siang, selepas praktikum…saya dan teman-teman berencana makan siang bersama. Kami mengeluarkan bekal masing-masing. Memang kebiasaan kami membawa bekal makan siang bila jadwal kuliah padat..Sungguh nikmatnya kebersamaan ini. Berbeda dengan teman-teman saya yang membawa bekal karena alasan menjaga kebersihan, saya membawa bekal dengan alasan penghematan. Maklum anak kos :) … Jadi seiring langkah kaki menuju kampus, saya sempatkan beli makanan di warung dekat kos. Lontong sayur, menu makanan yang selalu saya incar..hehe.. aneh, bukannya lontong sayur tu buat sarapan. Biarin..yang penting kenyang :) . Kali ini saya tak akan berbicara tentang lontong sayur, tetapi akan bercerita mengenai kejadian sewaktu makan siang itu.

Tumben-tumbennya kali itu saya sempatkan mengamati gerak-gerik salah seorang teman saya, padahal biasanya tanpa ba bi bu saya segera melahap bekal makan siang yang sudah saya bawa. Tuh kan, kelihatan kalau tidak peduli dengan sekitar :) . Saya melihatnya…cara dia berdoa…berdoa menurut keyakinannya tentunya, sama seperti saya yang berdo’a sesuai dengan apa yang diajarkan ibu saya. Dia begitu tenang dan khusyu’ dalam berdo’a..padahal keseharian dia adalah cewek yang grusa grusu..doanya pun tak bisa dikatakan sebentar…Hal yang jarang saya temui. Hanya untuk sekedar makan, apa perlu doa selama itu? pikir saya

Ketika selesai berdoa, dengan nada penasaran saya bertanya..”Boleh tau apa yang kamu baca ketika berdoa?”

“Aku berterimakasih pada Tuhan atas makanan yang tersedia…atas semua yang diberikan kepadaku hari ini….terimakasih telah menolongku dalam mengerjakan praktikum, …juga tadi sekalian curhat ma Tuhan tentang kejadian hari ini.” jawabnya

Hah??? Saya kaget, “Mau makan masi sempet curhat sama Tuhan? Kalau curhatnya tentang kejadian menggembirakan sih oke-oke aja, kalo curhatnya tentang kejadian sial yang baru dialami bukannya malah menambah luka dan membuat ga nafsu makan?” sambung saya.

“Memang, kejadian apapun aku curhat ma Tuhan..mau yang bahagia ataupun yang sedih…setelah cerita hatiku terasa lebih enakan. Seperti laporan..laporan kepada Yang Tersayang” Jawabnya ringan

Kata-katanya membuat saya termangu. Selama ini do’a-do’a yang diajarkan oleh ibu saya untuk setiap kegiatan yang saya lakukan baik sebelum maupun sesudahnya memang tak pernah saya tinggalkan…tapi seakan-akan menjadi rutinitas tanpa makna, sekedar hafalan..tanpa tahu arti kira-kira apa yang saya baca…komat kamit ga jelas…..Itupun dilakukan tergesa-gesa..sambil menyuap sambil berdoa..ga nyampe 30 detik..tak pernah menyediakan waktu khusus dan itu berarti bahwa saya tak pernah bersungguh-sungguh dalam berdo’a.. saya tak pernah bersungguh-sungguh bersyukur maupun meminta perlindungan ALLAH. Yah, karena selama ini saya hanya membaca do’a dan bukan berdo’a

Tentang curhat??? Padahal ALLAH memberikan saya waktu-waktu terbaik untuk curhat, berdo’a dan memohon padaNYA. Jadi ingat, bahwa tak setiap sholat saya benar-benar berdo’a..lagi-lagi rutinitas komat kamit tanpa makna. Dan seharusnya waktu-waktu tersebut dapat menjadi ajang bagi saya untuk mendekatkan diri pada ALLAH. Bukankah ALLAH tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai…hati yang tak pernah bersungguh-sungguh dalam meminta. Yah, ibaratnya orang meminta tolong pada saya dengan tampang yang tidak serius, setengah butuh setengah engga dan terkesan main-main, tentunya saya akan malas menggubris permintaannya…berbeda dengan yang meminta kepada saya dengan nada sungguh-sungguh, pasti hati kecil saya akan berbisik..”bantu dia, Nay”. Belajar dari teman saya, yang tidak meninggalkan Tuhan dalam setiap aktivitasnya..yang menyerahkan segala urusan keduniaan pada Sang Maha Pengatur Segala Urusan..menyerahkan masalah pada Sang Maha Pemilik Jawaban. Mungkin inilah bentuk kedekatan dan kepasrahan pada Tuhan.

Saya teringat pesan teman SMU saya..”Sempatkanlah bermuhasabah di malam hari sebelum tidur..introspeksi diri atas segala kegiatan yang kau lakukan seharian..Selalu mohon ampun pada ALLAH karena manusia tak luput dari dosa. Berdoalah dengan rasa takut dan harap. Dan mulai merencanakan langkah untuk hari esok. ”

Peristiwa ini terjadi 3 tahun lalu…dan peristiwa itu masih membekas di hati saya. Thanks Jessy, telah memberikan saya pelajaran yang baik

Advertisement